


(Sumber: Google image, 2024)

(Sumber: Google image, 2024)
Kita ketahui bersama bahwa luasnya perairan Maluku telah membuat sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor utama yang memiliki peran penting untuk penggerak utama dari pembangunan perekonomian daerah Kepulauan Maluku. Hal ini selaras dengan kondisi geografis perairan Indonesia yang terletak di kawasan tropis sangat kaya akan berbagai jenis ikan. Namun pada era saat ini sektor kelautan dan perikanan di Indonesia adalah dihadapkan pada berbagai tantangan, yang salah satunya adalah penangkapan berlebih (over fishing). Oleh sebab itu diperlukan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Sasi sebagai suatu tradisi yang berkembang di masyarakat Maluku memiliki tujuan agar masyarakat dapat menjaga kelestarian dan menggunakan suatu sumber daya kelautan secara bijak dan berkelanjutan, sehingga adanya tradisi ini menjadi suatu sarana yang tepat untuk membantu menjaga keseimbangan sumber daya alam yang ada. Akan tetapi modernisasi dan komersialisasi yang terjadi pada saat ini menyebabkan kemerosotan nilai tradisi dan budaya yang ada di Indonesia, termasuk Sasi. Sehingga pada praktiknya saat ini, sudah hampir kalangan melupakan dan meninggalkan tradisi sasi sehingga terjadi stagnasi praktik sasi laut. Padahal praktik sasi laut tetap perlu dilestarikan karena dampak baiknya bagi sumber daya alam utamanya menjamin keberlangsungan ikan di laut dan menyeimbangkan ekosistem laut. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap keberlanjutan dan dukungan penggunaan sasi laut diketahui sebanyak 94.2% berpendapat bahwa sasi laut menjadi alat yang paling efektif dalam melindungi wilayah laut. Sementara kita dihadapkan oleh fakta bahwa kondisi lingkungan perairan yang baik tentu saja akan menghasilkan sumber daya yang berkelanjutan dan lebih produktif.
Referensi:
Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya