group

Kearifan Lokal “Sasi” Perlu Lestari

(Sumber: Google image, 2024)

    Indonesia sudah dikenal sejak lama memiliki kekayaan alam yang melimpah baik yang ada di lautan dan daratan. Sumber kekakayaan alam ini diantaranya terdapat di sekitar Kepulauan Maluku dan Papua. Namun keberadaan sumber daya alam yang melimpah sering kali disalah artikan oleh sebagian masyarakat dengan melakukan berbagai kegiatan destruktif dan eksploitatif kepada lingkungan. Selain memiliki kekayaan hasil alam, Indonesia juga dikenal memiliki kekhasan budaya di setiap daerahnya.  Budaya baik berupa adat istiadat ataupun tradisi yang berkembang di masyarakat menjadi sebuah kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang telah ada secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan berlaku dalam tata kehidupan masyarakat saat ini.

   Kearifan lokal di setiap daerah dapat berbeda karena berasal dari tempat dan waktu yang berbeda, kearifan lokal memberikan dampak baik bagi masyarakat maupun lingkungan sehingga budaya tersebut masih terjaga sampai saat ini. Kearifan lokal yang ada ternyata dapat menjadi media dalam konservasi lingkungan yang melibatkan masyarakat setempat (Community Based Conservation). Kearifan lokal atau local wisdom merupakan bentuk pengetahuan lokal (indigenous knowledge) sebagai nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat yang juga berfungsi untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Salah satu contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia, dan masih terus dipegang oleh masyarakat setempat adalah Tradisi Sasi. Sasi merupakan kegiatan pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam yang utamanya ada di laut yang banyak dilakukan masyarakat Maluku dan Papua. Kata sasi sendiri maksudnya berasal dari kata “sanksi” yang artinya larangan. Sasi adalah larangan penggunaan ataupun pemanfaatan sumber daya alam dalam jangka waktu tertentu. Pelarangan memancing ikan atau mengeksploitasi sumber daya yang ada di laut dikenal juga dengan buka tutup sasi yang diatur oleh lembaga adat sasi di daerah setempat.  

    Sejarah sasi bermula sekitar akhir tahun 1400-an yang    bermula    dari    transisi    pemerintahan uku    lima (masyarakat gunung) dan uku lua (masyarakat pantai). Awalnya tradisi ini ada karena munculnya pemikiran bahwa ketersediaan sumber daya alam, terutama di pulau-pulau kecil sangat terbatas, sementara kebutuhan masyarakat akan terus meningkat. Apabila masyarakat terus mengambil dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut secara serakah, maka pada suatu titik akan terjadi kepunahan atau langkanya sumber daya alam terebut, sehingga dibutuhkan larangan agar masyarakat sementara waktu menghentikan aktivitas pemanfaatan sumber daya alam baik tumbuhan dan hewan untuk memberi kesempatan bagi hewan atau tumbuhan melakukan reproduksi atau berkembang biak.

(Sumber: Google image, 2024)

    Kita ketahui bersama bahwa luasnya perairan Maluku telah membuat sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor utama yang memiliki peran penting untuk penggerak utama dari pembangunan perekonomian daerah Kepulauan Maluku. Hal ini selaras dengan kondisi geografis perairan Indonesia yang terletak di kawasan tropis sangat kaya akan berbagai jenis ikan.  Namun pada era saat ini sektor kelautan dan perikanan di Indonesia adalah dihadapkan pada berbagai tantangan, yang salah satunya adalah penangkapan berlebih (over fishing). Oleh sebab itu diperlukan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Sasi sebagai suatu tradisi yang berkembang di masyarakat Maluku memiliki tujuan agar masyarakat dapat menjaga kelestarian dan menggunakan suatu sumber daya kelautan secara bijak dan berkelanjutan, sehingga adanya tradisi ini menjadi suatu sarana yang tepat untuk membantu menjaga keseimbangan sumber daya alam yang ada. Akan tetapi modernisasi dan komersialisasi yang terjadi pada saat ini menyebabkan kemerosotan nilai tradisi dan budaya yang ada di Indonesia, termasuk Sasi.  Sehingga pada praktiknya saat ini, sudah hampir kalangan melupakan dan meninggalkan tradisi sasi sehingga terjadi stagnasi praktik sasi laut. Padahal praktik sasi laut tetap perlu dilestarikan karena dampak baiknya bagi sumber daya alam utamanya menjamin keberlangsungan ikan di laut dan menyeimbangkan ekosistem laut. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap keberlanjutan dan dukungan penggunaan sasi laut diketahui sebanyak 94.2% berpendapat bahwa sasi laut menjadi alat yang paling efektif dalam melindungi wilayah laut. Sementara kita dihadapkan oleh fakta bahwa kondisi lingkungan perairan yang baik tentu saja akan menghasilkan sumber daya yang berkelanjutan dan lebih produktif.

        Referensi:

  1. Betaubun, A. D. S., Laiyanan, S. E. B., Renyaan, D., & Pentury, F. (2019). Persepsi penerapan sasi laut di wilayah perairan kepulauan kei: upaya mendukung keberlanjutan sumber daya laut. Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan12(1), 136-144.
  2. Persada, N. P. R., Mangunjaya, F. M., & Tobing, I. S. (2018). Sasi sebagai budaya konservasi sumber daya alam di Kepulauan Maluku. Ilmu Dan Budaya41(59).
  3. Satria, Arif, and Ahmad Mony. “Dinamika praktek sasi laut di tengah transformasi ekonomi dan politik lokal.” Jurnal Sosiologi Pedesaan 7.2 (2019): 143-152.

Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya

vector

PT MITRA HIJAU INDONESIA

CONNECT

adminmhi@gmail.com
+62​81359795565
szutestmarkalar lekesiz 26
szutestbrands darkbg iso14001
szutestbrands darkbg iso9001

© all rights reserved – simetrie

EnglishIndonesian
Kirim Pesan
Kirim pesan pada kami
Terima Kasih telah menghubungi kami.