JEJAK KECIL, DAMPAK BESAR: CARA SEDERHANA KURANGI EMISI DARI RUTINITAS HARIAN

cara mengurangi jejak karbon
karbon

(Sumber: Google image, 2025)

Setiap hari banyak orang yang merasakan bahwa suhu bumi semakin panas. Kejadian ini banyak dikaitkan dengan fenomena pemanasan global yang banyak di propagandakan dengan isu penyelamatan bumi melalui ajakan-ajakan yang bertujuan menjaga iklim di bumi.  Dampak pemanasan global tidak hanya menyebabkan suhu harian bumi yang terus meningkat, melainkan juga menjadi potensi petaka-petaka lain seperti terganggunya keseimbangan flora dan fauna di bumi,  kenaikan permukaan air laut yang bisa menimbulkan abrasi pantai ataupun banjir rob, penyebaran penyakit, hingga dampak sosial ekonomi bagi masyarakat. Tapi, tahukah Kawan Mitra dengan Pemanasan Global ? Pernahkan kalian terbayangkan bahwa aktivitas yang kita lakukan setiap hari dapat memicu peningkatan pemanasan global?. 

Pemanasan Global: Akibat Aktivitas Sehari-hari yang Kita Anggap Biasa

Pemanasan global atau global warming terjadi karena meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Global warming sendiri merupakan isu yang sebenarnya sudah jadi perhatian sejak beberapa dekade terakhir. Keberadaan GRK ini seperti lapisan selimut yang memantulkan dan menyerap panas dari gelombang panjang, yang menyebabkan suhu bumi jadi makin tinggi. Namun sayangnya yang sering tidak kita sadari, GRK ini dapat muncul dari kegiatan kita sehari-hari, seperti saat berkendara, belanja, olahraga, dan aktivitas lainnya. Contohnya saat kita berkendara menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat menghasilkan Gas CO2 ataupun gas lainnya yang berasal dari bahan bakar kendaraan, gas tersebut menyumbangkan polusi emisi yang terbuang bebas di udara. Contoh lain, saat berbelanja yang ternyata penggunaan Air Conditioner (AC) dan pencahayaan ruangan yang memerlukan listrik dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh pembangkit berbahan bakar fosil yang pada prosesnya menghasilkan emisi Gas CO2. Sekarang, bisa dibayangkan dengan semakin banyak aktivitas tersebut, semakin tinggi pula jumlah gas rumah kaca yang terkumpul di udara.
Dari semua jenis GRK, emisi karbon dioksida (CO₂) jadi penyumbang terbesar. Emisi ini banyak berasal dari pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Salah satu publikasi yang ditulis oleh Lestari pada 2019 menyebutkan seiring bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya aktivitas, serta gaya hidup masyarakat yang makin konsumtif, kebutuhan energi pun melonjak dan akhirnya emisi CO₂ pun ikut naik. Fakta yang mengejutkan, bahwa dalam 1 abad terakhir, lonjakan emisi karbon tertinggi di tahun 2024.

Fakta : Emisi Karbon Sektor Energi Pecah Rekor Tertinggi di Tahun 2024

Grafik 1.1. Grafik 1.2.
Emisi CO₂ global dari pembakaran energi dan proses industri serta perubahannya per tahun, 1900–2023
Perubahan Tahunan Emisi CO₂ Terkait Energi (1900–2024)

grafik 1.1

grafik 1.2

Sumber : (International Energy Agency, 2025)

Pada tahun 2024, dunia kembali mencatat rekor baru dalam emisi karbon dari sektor energi. Total emisi karbon dioksida (CO₂) yang berasal dari berbagai aktivitas  meningkat sebesar 0,8%, mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah yaitu 37,8 metrik ton. Kenaikan ini juga mendorong konsentrasi CO₂ di atmosfer naik menjadi 422,5 bagian per juta (ppm), meningkat sekitar 3 ppm dibanding tahun sebelumnya dan 50% lebih tinggi dari masa pra-industri. 

Perlu menjadi perhatian bersama, bahwa meskipun bukan pelaku utama di dunia, Negara Indonesia menjadi salah satu kontributor utama di Asia Tenggara yang menyumbang sebesar 4,4 metrik ton CO2 dari Gas Alam dan 36,2 metrik ton CO2 yang dihasilkan dari Batu Bara berdasarkan International Energy Agency (IEA).

Aktivitas Permukiman Juga Berkontribusi pada Emisi Karbon

Pada publikasi yang dikemukakan secara tertulis oleh Rosadi bahwa tidak hanya  industri besar yang ikut andil penyumbang emisi karbon, kegiatan sehari-hari di lingkungan permukiman juga punya peranl besar dalam meningkatkan emisi karbon. Rumah tangga jadi salah satu sumber utama, karena disanalah sebagian besar waktu dihabiskan, mulai dari masak, mencuci, hingga menggunakan alat elektronik. Semua aktivitas itu, secara langsung atau tidak, menghasilkan emisi karbon. Emisi karbon ini dihasilkan dari kegiatan rumah tangga karena penggunaan energi listrik, pemanasan air, penggunaan alat pendingin ruangan, dan pengolahan limbah domestik. Selain itu, praktik penggunaan kendaraan pribadi di lingkungan permukiman juga memperbesar emisi karbon. Meskipun kontribusinya bersifat terdesentralisasi dan tersebar, akumulasi emisi dari permukiman dalam skala nasional memiliki dampak signifikan terhadap perubahan iklim.

pembakaran sampah

(Sumber: Google image, 2025)

Bahkan, Pertanian dan Peternakan disekitar kita juga turut menyumbang emisi

Sektor pertanian ternyata jadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca, terutama melalui gas metana dari sawah dan ternak, serta gas dinitrogen oksida (N₂O) yang muncul akibat penggunaan pupuk. Penelitian  yang dilakukan oleh Zhang di tahun 2020 menunjukkan bahwa penggunaan pupuk yang semakin meningkat dalam budidaya padi ikut mendorong naiknya emisi metana. Selain itu, tanah yang mengeluarkan gas N₂O juga ikut menambah jejak karbon dari aktivitas pertanian. Dilain sisi, sektor peternakan juga punya andil besar dalam menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) di tingkat global. Industri peternakan, terutama yang melibatkan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba, bertanggung jawab atas sekitar 14,5% dari total emisi GRK dunia. Oleh karena itu, mengurangi emisi dari sektor pertanian dan peternakan juga menjadi langkah penting untuk mengatasi perubahan iklim dan menuju target net zero emissions.

Berbagai aktivitas seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya yang saat ini dikenal dengan istilah Jejak karbon.  Jejak karbon (carbon footprint) sendiri adalah ukuran dari total emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia atau penggunaan barang secara berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bukan cuma CO₂ saja yang dihasilkan. Kegiatan di sektor permukiman juga melepaskan gas rumah kaca lain seperti metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O). Selain rumah tangga, emisi gas rumah kaca juga muncul dari berbagai sektor lainnya, seperti transportasi, energi, pengelolaan sampah, pertanian, dan peternakan. Jadi, walaupun terlihat sepele, aktivitas harian kita punya dampak nyata terhadap lingkungan. Walaupun kontribusi terbesar  jejak karbon tetap berasal dari sektor energi dan pembangkitan listrik,  yang masih sangat tergantung pada batu bara  serta pembukaan lahan dan kebakaran hutan, yang melepas CO₂ dan CH₄ dalam skala besar.

Komitmen Indonesia Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau

Keberadaan usaha pakaian ini sejatinya membawa dampak baik tersendiri  terhadap perekonomian dan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia. Sebab di satu sisi, sektor ini menciptakan banyak lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian. Namun dibalik tren fesyen yang ada saat ini baik yang diproduksi di dalam  ataupun luar negeri industri tekstil menjadi sektor yang menyumbang banyak limbah dan polusi terhadap lingkungan. Proses produksi tekstil melibatkan penggunaan banyak bahan kimia, pewarna sintetis, dan air dalam jumlah besar, yang semuanya berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan. Proses pewarnaan dan finishing pada tekstil sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti pewarna sintetis yang tidak ramah lingkungan. Laporan dari CNN Indonesia mengungkapkan bahwa industri tekstil, khususnya di negara-negara berkembang, adalah penyumbang terbesar polusi air. Pada proses produksi, pabrik tekstil seringkali membuang limbah cair yang mengandung bahan kimia beracun ke sungai dan danau tanpa pengolahan yang memadai. Akibatnya, kualitas air menjadi tercemar, yang berdampak pada ekosistem perairan dan kualitas hidup masyarakat yang bergantung pada sumber daya air. Selain itu, industri tekstil juga menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar. Menurut data dari World Bank, untuk memproduksi satu kilogram pakaian, diperlukan sekitar 2.700 liter air, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum satu orang selama dua tahun. Penggunaan air yang berlebihan ini menjadi masalah besar, terutama di negara-negara yang mengalami kekeringan.

karbon dioksida

Sementara itu, pada tahun 2024 lalu di ajang COP29 di Azerbaijan, Indonesia menegaskan komitmennya dalam menghadapi perubahan iklim dengan target pembangunan kapasitas energi baru hingga 100 gigawatt dalam 15 tahun ke depan, 75% diantaranya berasal dari energi terbarukan. Pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi carbon capture and storage (CCS) serta menawarkan 600 juta ton kredit karbon ke pasar global. Kredit karbon sendiri adalah satuan perdagangan emisi karbon yang mewakili hak untuk mengeluarkan satu ton emisi karbon dioksida (CO₂) atau gas rumah kaca lainnya yang setara. Kredit ini digunakan dalam sistem perdagangan karbon internasional sebagai alat untuk membantu negara atau perusahaan mengurangi dampak emisinya melalui mekanisme pasar. Disisi lain, Indonesia berkomitmen memulihkan 12,7 juta hektare hutan rusak dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pengendalian iklim. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, langkah ini melanjutkan kebijakan iklim yang telah dirintis sebelumnya, dengan tujuan membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Cara Efektif Kurangi Emisi Karbon dari Aktivitas Sehari-hari

Apabila melihat dari dampak yang mengancam dari fenomena yang terjadi saat ini, maka menurunkan emisi karbon bukan hanya tugas pemerintah atau industri besar saja. Seluruh lapisan masyarakat  dapat ikut berkontribusi lewat kebiasaan sehari-hari. Berikut empat cara praktis dan efektif yang bisa dilakukan kawan mitra untuk membantu menyelamatkan bumi.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Referensi:

  1. https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8259/industri-tekstil-dan-pakaian-tumbuh-makin-positif?lang=1
  2. https://ekonomi.bisnis.com/read/20241024/257/1810325/perjalanan-berliku-sritex-sril-sempat-lolos-pkpu-hingga-resmi-pailit

  3. https://ekonomi.bisnis.com/read/20241024/257/1810305/raksasa-tekstil-sritex-sril-resmi-dinyatakan-pailit

  4. https://katadata.co.id/analisisdata/63732042536a0/tren-thrifting-yang-mengancam-industri-tekstil-nasional

  5. https://data.goodstats.id/statistic/ada-494-masyarakat-indonesia-pernah-melakukan-thrifting-sP7wi

  6. https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info%20Singkat-XVI-14-II-P3DI-Juli-2024-235.

  7. https://indotextiles.com/joomla30/1862-ekspor-industri-tekstil-indonesia-tantangan-dan-prospek-di-tengah-gejolak-global

vector

PT MITRA HIJAU INDONESIA

CONNECT

admin@mitrahijauindonesia.com
marketing@mitrahijauindonesia.com

+62​81359795565
szutestmarkalar lekesiz 26
szutestbrands darkbg iso14001
szutestbrands darkbg iso9001

© all rights reserved – simetrie

EnglishIndonesian