Life On Land

  Di Artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai Life Below Water. Sekarang, kita bergeser membahas goallain dari SDGs yakni ‘Life on Land’. Manusia hanya salah satu makhluk yang ‘menumpang’ di bumi dan bergantung terhadap sumber daya di dalamnya, termasuk sumber daya yang ada di daratan. Sampai saat ini, manusia sudah bisa disebut merajai daratan dengan total populasi mencapai 7,9 milyar (Worldometer, 2021). Jumlah tersebut diprediksi akan mengalami pertumbuhan hingga 9-12 milyar di tahun 2050 dan tentu menyebabkan overpopulasi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika bumi sudah mencapai carrying capacity, apakah manusia akan beralih hidup di atas air ? Mungkin saja.  

  Manusia hidup ditopang Sumber Daya Alam, termasuk dari ekosistem terestrial. Saat ini, hutan yang ada memiliki luas 30% dan menutupi permukaan bumi serta memiliki fungsi lain seperti habitat bagi spesies lain, sekaligus sumber udara dan air bersih. Manfaat jangka panjang hutan juga dapat memerangi perubahan iklim. Namun Ironisnya, 13 juta hektar hutan hilang setiap tahunnya dan berimpact pada hilangnya keanekaragaman hayati di area tersebut karena 80% dari hutan adalah rumah bagi spesies terestrial seperti tumbuhan, hewan, dan serangga. Jadi, bukan hanya manusia yang nantinya tidak bisa ‘Life on Land’, namun juga makhluk hidup lainnya.

  Jika ada sebab, pasti ada akibat. Keseimbangan keanekaragaman hayati yang terganggu karena degradasi lahan menyebabkan masalah baru hingga menjadi rentetan masalah. Contoh kecilnya terjadi pada hewan yang habitatnya terusik dan berujung mengganggu masyarakat. Sebut saja gajah Sumatera yang sering diberitakan merusak rumah warga. Padahal, habitat gajah memang berada di situ-situ saja dan manusialah yang mengoverlay habitat mereka. Belum lagi jika dalam lahan yang hilang tersebut terdapat hewan atau tumbuhan dengan nilai manfaat atau ekonomi yang tinggi. Otomatis sedikit demi sedikit akan meningkatkan status kelangkaan.

   Kini kita beranjak memandang ‘Life on Land’ dari segi lahan. Saat ini, degradasi lahan yang terus-menerus kering menyebabkan desertifikasi/penggurunan hingga 3,6 milyar hektar. Desertifikasi dapat disebabkan karena perubahan iklim dan juga aktivitas manusia. Menurut UNDP (2021), sekitar 1,6 milyar manusia bergantung pada hutan untuk mata pencahariannya serta 2,6 milyar bergantung langsung pada pertanian untuk mencari nafkah. Jika desertifikasi terjadi terus-menerus, akan menyebabkan penurunan kesuburan tanah hingga terganggunya ketahanan pangan. Dampak lain yang terasa adalah bertambahnya angka kemiskinan dan berkurangnya ketersediaan air bersih.

   Salah satu target yang disusun dalam ‘Life on Land’ adalah memerangi desertifikasi, merestorasi lahan dan tanah terdegradasi, termasuk lahan yang terkena dampak desertifikasi, kekeringan, kebanjiran, dan berupaya untuk mencapai dunia yang terdegradasi secara netral.

  Selain upaya menekan desertifikasi, upaya restorasi termasuk sering di lakukan di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, restorasi sering dilakukan oleh perusahaan tambang untuk memulihkan kembali lahan yang tidak produktif. Cara yang dilakukan adalah dengan meletakkan top soil kembali di daerah yang ditambang. Selain itu, terdapat cara yang lebih kompleks dengan menggunakan biostimulan berisi mikroba dan zat mikro maupun makronutrien. Aplikasi biostimulan dapat memberikan nutrisi pada tanah sehingga dapat memperbaiki tekstur dan strukturnya.

  Pada akhirnya, untuk mencapai goals ‘Life on Land’ diperlukan kerjasama dari berbagai pihak mengingat hal tersebut merupakan goals yang besar. Akan lebih menarik jika terdapat kolaborasi antara pemerintah, NGO, swasta, maupun lembaga riset. Selain itu, pemerintah dapat menggemakan informasi dengan penyampaian bahasa yang mudah melalui portal berita online maupun sosial media untuk meningkatkan awareness pada masyarakat awam.

Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya

vector

PT MITRA HIJAU INDONESIA

CONNECT

adminmhi@gmail.com
+62​81359795565
szutestmarkalar lekesiz 26
szutestbrands darkbg iso14001
szutestbrands darkbg iso9001

© all rights reserved – simetrie

EnglishIndonesian