

Halo sobat Mitra!
Salam Lestari!
Mungkin banyak di antara kita yang sudah mengetahui bahwa organisme di alam mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganya, bahkan ada beberapa yang mengalami evolusi dan/atau seleksi alam yang merupakan bentuk proses pengoptimalan bentuk, sistem atau proses jangka panjang yang membutuhkan waktu yang lama. Berdasarkan teori evolusi Darwin (1809 – 1882), perubahan kondisi alam merupakan penyeleksi, dimana individu yang mampu menyesuaikan diri (karena kuat, tahan penyakit, dsb) terhadap perubahan alam akan dapat bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu akan terseleksi (tereliminasi atau mati). Selanjutnya, struktur dan fungsi tubuh makhluk yang lolos dari seleksi ini akhirnya dapat “diwariskan” kepada generasi penerusnya. Hal inilah yang menjadi suatu keuntungan karena manusia dapat meniru dan belajar dari proses pengoptimalan alam tersebut untuk disesuaikan dengan kebutuhan manusia saat ini.
Tahun 1960-an, Jack Steele (seorang Angkatan Udara Amerika Serikat) menciptakan istilah “bionik” sebagai penyebutan untuk pengembangan ide yang terinspirasi dari alam. Baru-baru ini, sebuah konsep inovasi yang terinspirasi dari alam telah berubah menjadi “biomimikri” atau “biomimetik”, istilah yang pertama kali disebutkan oleh Otto Steele pada tahun 1969. Biomimikri berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan mimesis yang berarti meniru. Oleh karena itu, istilah biomimetik mencakup kegiatan meniru (desain, proses, sistem, dll) atau pembuatan biomaterial yang terinspirasi dari alam menjadi sebuah teknologi untuk memecahkan masalah yang bermanfaat bagi manusia (Benyus 1997; Bar-Cohen 2006; Nindha, 2017).
Sejauh ini, biomimikri dapat memberikan harapan untuk menyelesaikan permasalahan masa depan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai lingkungan. Seiring dengan semangat harapan itu, perayaan hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sedunia atau International Day for Biological Diversity pada tanggal 22 Mei merupakan momen untuk meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas di bumi. Kami berusaha untuk merangkum contoh menarik yang kami harap dapat memicu pemikiran Anda tentang bagaimana biomimikri diterapkan pada upaya konservasi.
Kehidupan bawah laut mempunyai batasan untuk dipelajari. Terbatasnya prototipe robot untuk mempelajari kehidupan laut di habitat aslinya mendorong para peneliti dari Departemen Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) Massachusetts Institute of Technology (MIT) menciptakan SoFi (Soft Robotic Fish) pada tahun 2018. SoFi mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya: mampu berenang pada kedalaman 0 hingga 18 meter, dapat memberikan data secara akurat melalui hasil rekaman, dapat dikendalikan menggunakan pengendali jarak jauh (remot). Selain itu, kemiripan bentuk robot dengan ikan karang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data tanpa mempengaruhi perilaku alami ikan karang (Katzschmann et.al, 2018).


Nucleário, diciptakan untuk memberikan solusi terhadap masalah restorasi. Teknologi Nucleário dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi bibit tanaman dari kompetisi spesies asing dan memberikan lingkungan mikro yang lebih baik dengan adanya tangki penyimpanan air sehingga pertumbuhan bibit tanaman restorasi bisa lebih optimal.
Nucleário terinspirasi oleh jenis tanaman bromelia yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan air. Nucleário menawarkan pendekatan yang cerdas, murah, dan cepat untuk restorasi hutan skala besar. Sistem penanaman Nucleário memelihara dan melindungi bibit pohon, mengurangi kebutuhan akan irigasi, herbisida, dan pestisida sehingga memungkinkan pemulihan vegetasi hutan dengan lebih cepat (Benites et al., 2020).


ECOncrete (Eco Armor Blok) merupakan inovasi untuk pengembangan teknologi sistem pertahanan pantai untuk meminimalkan dampak akibat erosi. Inspirasi desain ECOncrete (Eco Armor Blok) adalah kolam pasang surut alami dan lapisan kerang atau tiram yang melindungi garis pantai dari aksi gelombang dan badai. Struktur ini juga meningkatkan perekrutan organisme sehingga memungkinkan alam ikut membantu dalam sistem pertahanan pantai buatan (Sella et al, 2018).

Semoga studi kasus ini akan menginspirasi buat sobat mitra hijau untuk meningkatkan upaya konservasi keanekaragaman hayati menggunakan pengembangan teknologi biomimikri. Salam Lestari!
Refrensi:
Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya