group

Banjir Rob, Peristiwa Alam atau Kecerobohan Manusia?

  Bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia sangat mempengaruhi perkembangan kota. Hal tersebut mempengaruhi permintaan terkait kebutuhan lahan sebagai Kawasan pemukiman, industri, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan tersebut mempengaruhi permintaan air baku tanah. Hal ini sangat memungkinkan terjadinya over pumpage air pada baku tanah. Over pumpage menyebabkan adanya rongga pada lapisan tanah yang jika terus menerus dilakukan akan menyebabkan land subsidence, intrusi air laut, dan kontaminasi arsenic.

  Rongga pada lapisan tanah yang tidak mendapat supply air dari wilayah hulu menyebabkan tanah menjadi ambles. Fenomena Land Subsidence atau yang dikenal dengan sebutan penurunan muka tanah merupakan isu bagi kota besar di pesisir utara Indonesia. Beberapa kota besar yang terdampak Land Subsidence adalah Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Faktor yang menjadi penyebab land subsidence adalah pengambilan air tanah yang berlebihan, bukaan tanah akibat tambang, konsolidasi tanah dan berat beban bangunan diatas permukaan tanah yang berlebihan. Data terkait laju penurunan permukaan tanah adalah hal yang harus dianalisis dalam perencanaan dan penatan ruang. Penempatan suatu objek pembangunan dan pusat aktivitas di suatu wilayah sangat memerlukan tanah yang stabil dan tanpa kerentanan terhadap penurunan muka tanah. Hal ini menyebabkan analisis terkait penurunan muka tanah sangat diperlukan bagi pembangunan gedung tinggi dan pemanfaatan ruang dibawah permukaan tanah. Jika hal tersebut tidak diperhitungkan dan diabaikan begitu saja pada perencanaan wilayah, maka pembangunan yang terus menerus dilakukan tanpa mengingat penurunan muka tanah dapat menjadi penyebab dari adanya genangan rob khususnya di kota besar dan wilayah pesisir.

  Penurunan muka tanah yang terus menerus terjadi akan menyebabkan naiknya air laut ke daratan saat terjadi pasang. Naiknya air laut ke daratan diartikan sebagai genangan banjir rob. Genangan banjir rob juga dipengaruhi oleh permukaan air laut yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Genangan rob dapat mengakibatkan kerusakan fasilitas umum, kekurangan air bersih, mengganggu transportasi umum, dan dapat menenggelamkan rumah serta Kawasan yang terdampak. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani, maka luasan dari wilayah terdampak akan semakin bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun.

  Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Secara sederhana banjir dapat dikatakan sebagai hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan tanah kawasan tersebut. banjir sebagai bagian dari suatu siklus hidrologi. Siklus hidrologi dapat dilihat bahwa volume air yang mengalir di permukaan bumi dominan ditentukan oleh curah hujan, dan tingkat peresapan dalam tanah. Kedatangan banjir dapat diprediksi dengan memperhatikan curah hujan. Namun terkadang banjir juga dapat datang tiba-tiba akibat angin badai, jebolnya tanggul suatu bendungan yang yang biasa disebut banjir bandang, dan naiknya air laut ke permukaan tanah di pesisir pantai yang biasa disebut banjir rob.

   Dalam cakupan pembicaraan yang luas, dimulai dari turunnya air hujan sampai dipermukaan bumi, mengalir, dan bergerak menuju laut membentuk alur-alur sungai. Alur-alur sungai ini mulai di daerah yang tinggi di suatu kawasan, bisa daerah pegunungan, gunung atau perbukitan, dan berakhir di tepi pantai ketika aliran air masuk ke laut. Beberapa penyebab alami dan buatan terjadnya banjir menurut Sugiyanto & Kodoatie (2002), yaitu curah hujan, erosi, dan sedimentasi, pengaruh pasang surut air laut, daya tampung drainase, persampahan, dan kawasan kumuh.

  Banjir rob merupakan bencana alam yang biasanya terjadi pada wilayah pesisir pantai dengan ketinggian permukaan tanah yang tidak lebih tinggi dari pasang air laut tertinggi. Hal ini menyebabkan saat terjadinya pasang laut maka terdapat wilayah yang tergenang banjir. Pasang surut air laut adalah penyebab utama dari terjadinya banjir rob. Ketinggian banjir rob setara dengan ketinggian pasang air laut. Genangan banjir rob akan turun saat terjadinya surut pada air laut. Ketinggian banjir rob berubah sesuai dengan pasang surut air laut yang terjadi. Ketinggian air laut ini dapat memprediksikan luas daerah genangan banjir yang terjadi pada suatu waktu tertentu. Selain itu, banjir rob juga disebabkan oleh faktor-faktor tenaga eksternal seperti dorongan air, angin, atau swell (gelombang yang bergerak dengan jarak sangat jauh meninggalkan pembangkitnya), badai di laut, serta pencairan es kutub yang dipicu oleh pemanasan global.

  Periode dan waktu genangan banjir rob juga sesuai dengan waktu dan periode pasang surut air laut. Biasanya banjir rob hanya terjadi beberapa jam saja. Sebaran genangan banjir rob biasanya meliputi wilayah pesisir pantai, rawa dan dataran rendah di sekitar pantai. Luas sebaran genangan banjir rob dapat ditentukan dengan ketinggian air laut saat pasang, namun hal ini akan semakin berbahaya jika terjadi penurunan muka tanah di daerah genangan tersebut. Banjir rob menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan di tengah masyarakat. Faktor yang menjadi penyebab dari banjir rob ini diantaranya adalah kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah, selain itu juga terdapat faktor ketinggian kawasan daratan serta sistem drainase yang ada juga dapat mempengaruhi keberadaan banjir rob. Cara untuk mengurangi luas genangan banjir rob yang terjadi maka diperlukan informasi terkait penggunaan lahan guna melakukan perubahan dan penanganan penggunaan lahan agar dapat disesuaikan dengan bencana yang terjadi. Semakin luasnya sebaran banjir rob, dapat mempengaruhi harga tanah dan bangunan yang ada diatasnya.

Ada berbagai jenis banjir rob, yaitu:


1.
Banjir Bandang. Banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air besar yang disebabkan oleh terbendungnya aliran sungai (BNPB, Undang-Undnag Nomor 24 Tahun 2007). Penyebab adanya banjir bandang yang dikutip dari situs BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Bogor, yaitu karena curah hujan yang tinggi, adanya tumpukan sampah, kerusakan bendungan, penebangan, hutan, padatnya pemukiman di daerah resapan air, volume air yang besar di daerah hulu, dan kondisi topografis suatu daerah. Selain itu, banjir bandang juga pernah terjadi di Sintang, Kalimantan Barat pada November 2021. Banjir ini merupkan banjir terbesar yang pernah terjadi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang merendam kurang lebih 12 kecamatan selama 1 bulan. Di sisi lain, banjir bandang juga pernah terjadi di kota Manado, Sulawesi Utara pada Januari 2014 yang mengakibatkan 18 orang tewas, ribuan rumah warga rusak, dan warga yang terdampak mengalami kerugian triliyunan rupiah. Banjir terjadi karena hujan deras yang mengguyur Manado selama dua hari. Luapan Sungai Sario, Tondano, dan Sawangan turut mempengaruhi genangan air di sejumlah wilayah.

2. Banjir Bandang. Banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air besar yang disebabkan oleh terbendungnya aliran sungai (BNPB, Undang-Undnag Nomor 24 Tahun 2007). Penyebab adanya banjir bandang yang dikutip dari situs BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Bogor, yaitu karena curah hujan yang tinggi, adanya tumpukan sampah, kerusakan bendungan, penebangan, hutan, padatnya pemukiman di daerah resapan air, volume air yang besar di daerah hulu, dan kondisi topografis suatu daerah. Selain itu, banjir bandang juga pernah terjadi di Sintang, Kalimantan Barat pada November 2021. Banjir ini merupkan banjir terbesar yang pernah terjadi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang merendam kurang lebih 12 kecamatan selama 1 bulan. Di sisi lain, banjir bandang juga pernah terjadi di kota Manado, Sulawesi Utara pada Januari 2014 yang mengakibatkan 18 orang tewas, ribuan rumah warga rusak, dan warga yang terdampak mengalami kerugian triliyunan rupiah. Banjir terjadi karena hujan deras yang mengguyur Manado selama dua hari. Luapan Sungai Sario, Tondano, dan Sawangan turut mempengaruhi genangan air di sejumlah wilayah.

3. Banjir hujan ekstrim. Banjir ini biasanya terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. biasanya peristiwa ini terjadi ditandai dengan banyaknya awan yang menggumpal di angkasa disertai kilat atau petir yang keras dan disertai badai tropis atau cuaca dingin. Umumnya banjir ini terjadi akibat meluapnya air hujan, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tidak mampu menahan banyaknya debit air. Sebagai contoh hujan ekstrem pernah terjadi di wilayah Jabodetabek pada awal 2020. Hujan yang turun sejak tanggal 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020 mengakibatkan banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Puluhan ribu orang mengungsi dan sedikitnya 16 orang meninggal dunia. Hujan ekstrem batasannya adalah 150 mm dalam 24 jam. Saat itu sampai 377 mm dalam 24 jam. Curah hujan yang besar inilah yang menyebabkan banjir besar di wilayah Jabodetabek.

Pasca-banjir di kawasan Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi, pada Kamis 2 Januari 2020

4. Banjir luapan sungai atau banjir kiriman. Biasanya berlangsung dalam waktu yang lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran, sebab peristiwa alam yang memicunya telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Jenis banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama. Banjir dapat datang secara mendadak, banjir ini bersifat musiman atau tahunan dan berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu dan biasanya terjadi di daerah lembah.

5. Banjir hulu. Banjir yang terjadi di wilayah sempit, kecepatan air tinggi, berlangsung cepat, dan jumlah air sedikit. Banjir ini biasanya terjadi di pemukiman dekat hulu sungai. Banjir ini biasanya terjadi akibat tingginya debit air yang mengalir sehingga alirannya sangat deras dan berakibat destruktif.

   Banjir bukan merupakan suatu permasalahan selama peristiwa tersebut tidak menimbulkan bencana bagi manusia, maka dimulailah upaya untuk pencegahannya. Menurut Waryono, T. (2008), dua faktor penyebab terjadinya banjir di Indonesia adalah:

1. Kondisi dan peristiwa alam, meliputi intensitas curah hujan yang terjadi pada bulan-bulan tertentu, topografi wilayah yang merupakan dataran rendah dengan lereng relatif landai, serta bentang cekungan sebagai kawasan tandon air, secara geologi tanah-tanah tertentu termasuk golongan tanah yang kedap air sehingga air mengalami kesulitan untuk berinfiltrasi, penyempitan dan pendangkalan sungai akibat pengendapan material-material yang dibawa dari hulu ke hilir ikut memberi andil penyebab banjir, pada saat terjadinya pasang naik air laut terjadi hujan dan air sungai yang menuju laut terbendung oleh pasang naik akibatnya air melimpah kedaratan.

2. Akibat dari aktivitas manusia, perubahan penggunaan tanah dari yang semula merupakan situ, rawa, sawah, kebun, tanah kosong, dialih fungsikan menjadi penggunaan tanah menjadi permukiman, atau bangunan sarana-sarana lainnya, penebangan liar pada hutan di wilayah hulu sebagai daerah tangkapan air (catchment area), hingga bukan saja  berakibat terhadap terjadinya banjir akan tetapi juga terhadap kekeringan pada musim kemarau, penyempitan bantaran sungai, sebagai akibat dari okupasi penduduk, penduduk berprilaku yang kurang memahami pentingnya peranan fungsi sungai, serta saluran drainase, dan pembuangan limbah (sampah), kurangnya teknik penyerasian bentuk-bentuk pembanghunan saluran drainse yang erat kaitannya dengan karakteristik fisik wilayah perkotaan.

Dampak negatif banjir bagi lingkungan:

1. Rusaknya Area Pertanian
Karena area persawahan terendam banjir, akibatnya banyak petani yang harus mengalami kerugian karena gagal panen. Hal tersebut berdampak pada harga bahan pangan, terutama beras menjadi mahal karena supply-nya terbatas.

2. Rusaknya infrastruktur publik dan bangunan pribadi
Rusaknya infrastruktur mengakibatkan terhambat dan terganggunya aktivitas masyarakat. Rumah warga yang hancur dan barang berharga yang hilang menyebabkan kerugian yang tidak sedikt. Pihak terkait harus segera melakukan perbaikan agar aktivitas warga kembali normal. Banyaknya barang dan sampah yang terbawa arus banjir menyebabkan pencemaran pada air dan berdampak buruk terhadap ekosistem yang ada di dalamnya.

Tindakan untuk menanggulangi terjadinya banjir, antara lain:

1. Melakukan reboisasi pada hutan. Kebanyakan bencana alam terutama banjir dan tanah longsor disebabkan karena hutan yang gundul. Selain melakukan reboisasi, masyarakat dituntut untuk melakukan penghijauan di halaman rumahnya sendiri dan melakukan tebang pilih agar hutan terhindar dari kegundulan. Reboisasi penting untuk mencegah terjadinya erosi tanah yang bisa disebabkan oleh angin dan air hujan yang berturut-turut, kesuburan tanah perlu dilestarikan agar bisa dijadikan sebagai lahan pertanian, udara tetap bersih dan sehat terutama bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya, tanah tetap kokoh sehingga risiko tanah longsor bisa dihindari, dan mengurangi efek dari pencemaran udara dan pemanasan global.

2. Membangun sistem drainase atau penyerapan yang baik. Hal ini membantu mebcegah berbagai persoalan, seperti mengurangi kemungkinan banjir, mencegah erosi, serta mencegah kerusakan jalan dan bangunan yang ada.

3. Tidak menggunakan plastik secara berlebih. Dinas Lingkungan Hidup (2019), menyampaikan melalui website nya, jika sampah plastik yang terbuang ke sungai-sungai itu, bisa menyebabkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang beujung terjadinya banjir. Sedangkan, terdapat laporan dari Greenpeace (2019), menyatakan bahwa jenis plastik yang menyumbang sampah paling banyak adalah sedotan plastik yang mencapai 13.539 buah di Indonesia pada tahun 2019. Setelah itu, penyumbang terbanyak adalah kantong plastik.

4. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering terjadi banjir.

5. Tidak membangun pemukiman di bantaran sungai.

6. Membentuk sekelompok angoota untuk melakukan pembersihan dan pengerukan sampah di bantaran sungai.

7. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.

  Bencana banjir sangat rawan dan banyak terjadi di wilayah di Indonesia, terutama di wilayah pesisir pantai utara (banjir rob), wilayah di sekitar bantaran sungai, dan lainnya. Faktor terjadinya banjir bisa murni dari peristiwa alam atau akibat ulah manusia. Untuk mengurangi dampak banjir, mari kita menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan , mengurangi sampah plastik, dan malakukan penghijauan kembali di hutan yang gundul.

Refrensi:

  • Benites R.M.A, Guerra A, Reis L.K, Dos Santos Ferreira B. H, Borges F.L.G, Ferreira I.J.K, Garcia L.C. 2020 Nucleário, cardboard, or manual crowning: which maintenance technique is most cost-effective in tree seedling survival establishment?. Journal of Environmental Management. 2020; 270: 110900.
  • Katzschmann, R,K. DelPreto,J. MacCurdy, R. Rus D. 2018. Exploration of Underwater Life with an Acoustically Controlled Soft Robotic Fish. Sci. Robot. 3, eaar3449.
  • Nindha, T, G, T. 2017. Biomimetik, Biomaterial, Teknologi Manufaktur Printing 3D. Universitas Udayana.
  • Santoso, D. A., 2022, https://www.beritasatu.com/news/1012561/waspada-hujan-ekstrem-penyebab-banjir-besar-awal-2020-bisa-terulang-tahun-ini, beritasatu.com.
  • Situmorang, H. D., 2021, https://www.beritasatu.com/news/866761/6-banjir-terbesar-sepanjang-sejarah-di-indonesia, beritasatu.com.

Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya

vector

PT MITRA HIJAU INDONESIA

CONNECT

adminmhi@gmail.com
+62​81359795565
szutestmarkalar lekesiz 26
szutestbrands darkbg iso14001
szutestbrands darkbg iso9001

© all rights reserved – simetrie

EnglishIndonesian
Kirim Pesan
Kirim pesan pada kami
Terima Kasih telah menghubungi kami.