

Berbicara mengenai sustainability atau keberlanjutan, hal ini telah menjadi isu penting yang terus menerus disosialisasikan di tengah masyarakat. Konsep sustainability itu sendiri merupakan upaya manusia untuk memperbaiki mutu kehidupan dengan tetap berusaha tidak melampaui ekosistem pendukung kehidupannya. Konsep ini telah diterapkan dalam berbagai aspek pembangunan, termasuk juga pada pengembangan pelabuhan.
Secara konseptual, pelabuhan memiliki tiga fungsi strategis, yaitu sebagai link (mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang/orang ke tempat tujuan), sebagai interface (tempat pertemuan dua moda transportasi), dan sebagai gateway (pintu gerbang suatu daerah/negara). Berdasarkan tiga fungsi strategis tersebut, pelabuhan menjadi bagian yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian suatu negara. Namun dalam pengembangan dan pengoperasiannya, selain sebagai penggerak ekonomi pelabuhan juga telah menyumbang permasalahan bagi lingkungan berupa penurunan kualitas lingkungan, seperti: pencemaran kualitas air, sampah, limbah B3, dan yang paling populer baru-baru ini yaitu pencemaran kualitas udara karena gas emisi. Dalam dokumen kontribusi nasional (nationally determined contributions/NDC) Indonesia tahun 2021, disebutkan bahwa kontribusi 19 persen emisi CO2 berasal dari atifitas pelayaran yang ada di Indonesia.
Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan proses maritime logistics khususnya jasa kepelabuhanan maka diusunglah konsep sustanability port development/greenport. Green Port merupakan suatu konsep baru dalam pengembangan pelabuhan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek kelestarian lingkungan, konservasi energi, community development, dan kepentingan ekonomi dari pelabuhan itu sendiri. Kriteria yang harus dipenuhi yaitu pengelolaan energi dan limbah, pengendalian pencemaran air, udara, dan sampah domestik serta pengendalian sampah B3 (bahan beracun dan berbahaya), keanekaragaman hayati, dan tata guna lahan. Beberapa pelabuhan di kawasan Asia yang telah menerapkan Green Port sebagai berikut :
| No | Pelabuhan | Initiative | Tahun |
|---|---|---|---|
| 1 | Shanghai Yangshan Port’s | Terminal baru yang dikembangkan dengan beroperasi full otomatis, mencapai target zero-emmision dan mampu memangkas penggunaan energi hingga 70% | 2018 |
| 2 | PSA Singapore | Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (photovoltaic system) dengan kapasitas 4 MW, menyediakan sistem suplai energi yang bersih | 2018 |
| 3 | Port of Tanjung Pelepas (PTP) | Pemasangan teknologi kabel listrik yang mampu menyediakan pasokan energi untuk STS crane. Sistem tersebut meningkatkan efisiensi, meningkatkan produktifitas dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan handling. | 2018 |
| 4 | Johor Port Authority (JPA) | Bekerjasama dengan Universitas Teknologi Malaysia untuk mengembangkan sistem IT online Ship Emission Management System yang membantu pengelola pelabuhan untuk memonitor, menghitung, dan mengatur emisi kapal yang masuk/keluar, dengan sistem berbasis web dan aplikasi mobile. | 2018 |
| 5 | Johor Port Authority (JPA) | Mengembangkan/mengeluarkan peraturan pelabuhan hijau (green port) | 2015 |
| 6 | Saigon Newport (SNP) | Secara terus-menerus melakukan upgrade peralatan energi bersih, dengan sasaran utama mengurangi debu dan kebisingan. | 2018 |
| 7 | Johor Port Berhad (JPB) | Menanam pohon pada area yang dimungkinkan secara optimal, untuk mengurangi emisi karbon. Dari upaya ini, pelabuhan memenangkan 2 penghargaan pada kategori landscape. | 2014- 2018 |
| 8 | Colombo International Container Terminals (CICT) | Mengganti 40 unit RTG (Rubber Tyred Gantry) bermesin diesel, dengan electric RTG untuk mencapai target zero emission. Upaya ini mampu mengurangi 45% emisi CO2 dan mengurangi konsumsi bahan bakar diesel hingga 95%. | 2018 |
| 9 | Port of Colombo | Menginvestasikan 10 juta USD untuk mengganti crane bermesin diesel menjadi crane bertenaga listrik. | 2018 |
| 10 | Maritime and Port Authority of Singapore (MPA) | Menandatangani perjanjian dengan Shell untuk menggunakan teknologi bahan bakar yang bersih dan ramah lingkungan, termasuk pemasangan peralatan untuk mengurangi emisi. | 2017 |
| 11 | The Ministry of Shipping, Government of India | Proyek Green Port dimulai untuk mengurangi emisi karbon pada seluruh pelabuhan di India, untuk menuju pembangunan yang berwawasan lingkungan. | 2017 |
| 12 | All ports within the Pearl River Delta, the Yangtze River Delta and Bohai Bay | China’s Marine Safety Administration (MSA) memperluas wilayah yang diatur ketat dalam pengendalian emisi (Emissions Control Areas (ECA)) | 2017 |
| 13 | Danish Maritime Authority , Norwegian Maritime Authority & Maritime and Port Authority of Singapore | Kesepakatan untuk menggunakan e-certs secara bersama, sebagai upaya untuk mendigitalisasi industri maritim, mengurangi penggunaan tenaga kerja, dan efisiensi biaya. | 2017 |
| 14 | New Priok Container Terminal One (NPCT1) | eRTG project yang dimulai tahun 2015, di lokasi terminal kontainer berhasil menurunkan emisi CO2, bising, dan menurunkan biaya bahan bakar hingga 90%. | 2015- 2016 |
| 15 | Haldia Port Complex, part of Kolkata Port Trust | Pelabuhan pertama di India yang menerapkan Green Port, dengan menggunakan bahan bakar Bio-Diesel pada mesin kereta api, truk, dan seluruh peralatan di pelabuhan. | 2015 |
| 16 | Taiwan International Port Corporation (TIPC) | Mengaktifkan Green Port Action Plan, yang mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan operasional pelabuhan, dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing secara global. | 2014 |
| 17 | Busan Port Authority (BPA) | Mengembangkan 22 dermaga sandar baru, dengan kapasitas total 6,6 juta TEU hingga 2020. Seluruh pengembangan pelabuhan akan menggunakan inovasi terbaru teknologi ramah lingkungan, seperti penggantian bahan bakar diesel ke bahan bakar listrik di terminal, serta pemasangan solar cell pada atap bangunan. | 2014 |
Untuk mencapai status Green Port, beberapa pelabuhan memulai dari langkah efisiensi energi produksi dan pengurangan CO2 (Badurina, 2017). Beberapa upaya yang lebih maju menggunakan energi matahari, mengkonversi dari unit diesel RTG ke unit e-RTG, menanam pohon dan juga mengadopsi standar ISO 14001: 2015. Selama beberapa tahun terakhir, untuk mengatasi masalah yang terkait dengan pengembangan dan pengoperasian pelabuhan berkelanjutan, termasuk didalamnya membantu proses pengambilan keputusan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan di industri pelabuhan, sejumlah organisasi internasional (OECD, IMO, dan ESPO) telah merancang usulan pedoman dan saran strategis terhadap praktik-praktik keberlanjutan pelabuhan. Sebagai gambaran pelaksanaan praktik-praktik keberlanjutan yang sudah diterapkan pada pelabuhan seluruh dunia, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 3. Ringkasan Praktik Keberlanjutan yang Diterapkan Pada Pelabuhan di Dunia (ESPO, OECD, IAPH)
| Praktik | Deskripsi | Detail |
|---|---|---|
Mengurangi risiko keuangan dan lingkungan di pelabuhan |
|
|
Meningkatkan fasilitas dan peralatan pelabuhan untuk memotong biaya operasi |
|
|
Menerapkan konsep bangunan ramah lingkungan |
|
|
Menerapkan strategi jangka panjang pengelolaan pelabuhan | Menggunakan sumber energi alternatif terbarukan untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan |
|
Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja di pelabuhan |
|
|
Efisiensi sumber daya | Mengurangi sampah, dan menggunakan alat/bahan ramah lingkungan akan menurunkan biaya operasional dan meningkatkan laba |
|
Citra pelabuhan ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial | Meningkatkan citra “hijau” dan melakukan transparansi pengelolaan pelabuhan |
|
Meningkatkan hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan |
|
|
Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Pelabuhan |
|
|
Optimalisasi pengaturan rute kendaraan |
|
|
Pengelolaan Angkutan (Modal Shift) |
|
|
Meningkatkan produktivitas karyawan |
|
|
Rekrutmen dan pemutusan hubungan kerja |
|
|
Lingkungan sosial dan lingkungan kerja | Menciptakan kondisi lingkungan tinggal dan lingkungan kerja yang nyaman |
|
Perluasan fasilitas darat dan pesisir | Mencegah polusi laut yang diakibatkan dari kegiatan persiapan/pematangan lahan | Meningkatkan fasilitas pengolahan air limbah domestik, dan fasilitas pengolahan sampah |
Memberikan insentif untuk praktik lingkungan hidup berkelanjutan | Mendorong praktik ramah lingkungan diterapkan pada seluruh areal pelabuhan |
|
Sumber : Kim and Chiang (2014: 22).
Salah satu contoh pelabuhan di Indonesia yang telah menerapkan konsep green port yaitu Pelabuhan Tanjung Perak khususnya pada pengoperasian Terminal Teluk Lamong yang berlokasi di perbatasan Surabaya – Gresik, Jawa Timur.

Terminal Teluk Lamong merupakan pelabuhan dengan konsep Green Port yang menerapkan fasilitas pelayanan bongkar/muat petikemas, curah kering, dan general cargo sistem Semi- otomatis. Pada tahun 2019 Terminal Teluk Lamong telah memenuhi target capaian aspek green port yang dilakukan oleh Kemenko Maritim sebesar 30 – 50 %. Dilihat dari aspek kelestarian lingkungan, Terminal Teluk Lamong telah mendapatkan sertifikasi ISO 14001 : 2015 tentang Sistem Manajemen Lingkungan dan OHSAS : 2017 tentang Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja. Dari aspek konservasi energi, fasilitas pelayanan bongkar/muat yang digunakan memiliki sistem electricity base, salah satunya dengan adanya layanan shore connection sehingga dapat meminimalisir emisi dan meningkatkan efisiensi biaya operasional. Selain itu pada aspek sosial juga telah dilakukan kegiatan CSR yang berpedoman pada ISO 26000, yaitu dengan membangun community development untuk meningkatkan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial-budaya, dan infrastruktur di lingkungan perusahaan.
Dengan diterapkannya konsep sustanability port development/greenport, diharapkan dapat meningkatkan mutu kehidupan baik dari segi ekonomi maupun dari segi lingkungan. Dalam hal ini pengelolaan yang dilakukan oleh Terminal Teluk Lamong dapat dijadikan contoh bagi pelabuhan-pelabuhan lainnya.
Pada tahun 2019, PT Mitra Hijau Indonesia turut terlibat dalam penyusunan konsep Green Port PT Pelabuhan Indonesia I. Terdapat beberapa konsep pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pelabuhan yang berwawasan lingkungan, antara lain :

Dalam kondisi saat ini dimana agen pelayaran internasional bebas memilih pelabuhan-pelabuhan mana saja yang hendak disinggahi, kriteria Green Port mulai mereka jadikan sebagai salah satu referensi. Pada akhirnya yang menjadi kunci keberhasilan Green Port adalah komitmen yang kuat dari manajemen puncak secara berkelanjutan, keinginan dan adanya rencana aksi untuk penerapan/ implementasi Green Port.
Konsep Green Port yang dikembangkan untuk PELINDO 1 direncanakan untuk seluruh area dan aktivitasnya yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Konsep Green Port PELINDO 1 dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kategori berdasarkan jenis area dan aktivitas yang terdapat di seluruh cabang pelabuhan PELINDO 1, terdiri dari :
Refrensi:
Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya