

Hari laut sedunia (World Ocean Day) merupakan hari perayaan untuk menghargai laut-laut yang ada di dunia karena telah memberikan sumber daya yang luar biasa bagi kehidupan manusia, mulai dari hasil-hasil laut yang bisa dikonsumsi oleh manusia, sumber minyak dan gas alam yang ada di dasar laut, keberadaan laut untuk menyediakan jalur pelayaran atau transportasi yang dapat menghubungkan kepentingan manusia hingga kehidupan laut untuk menjaga keseimbangan iklim dunia. World Oceans Day diperingati setiap 8 Juni sejak pengajuan pertama pada Tahun 1992 oleh Kanada pada Earth Summit di Rio De Janeiro yang kemudian resmi disahkan oleh PBB pada akhir tahun 2008. Hari Laut Sedunia juga bisa dijadikan sebagai momen untuk merefleksikan adanya aktivitas manusia yang semakin beragam juga secara tidak langsung mempengaruhi ekosistem di lautan itu sendiri.
Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke salah satu pantai di wilayah Taman Nasional yang ada di Pulau Jawa, kondisi bibir pantainya cukup membuat kami tercengang. Ekspetasi kami yang terlalu tinggi atau memang jadi ajang untuk menyadari bahwa permasalahan kontaminan di lautan sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Pasalnya, sampah begitu banyak di sepanjang pesisir pantai. Jika diamati, area tersebut tidak begitu dekat dengan aktivitas manusia tetapi sampah yang digunakan oleh manusia tiap harinya seperti botol kaca minyak tawon, sandal jepit, kantong plastik bahkan bola lampu bisa sampai disini dengan jumlah yang terbilang cukup banyak. Wilayah yang dilindungi seperti Taman Nasional, tidak ada aktivitas rutin manusia didekat laut dan terletak di sisi Selatan Pulau Jawa juga tidak terhindar dari sampah-sampah yang terombang-ambing di laut, kemudian berdiam diri dipesisir pantai dan berpotensi akan berpindah tempat jika ombak kembali menyapu mereka.
Ini adalah kondisi nyata dari larinya sampah-sampah yang dibuang ke badan air atau laut. Asumsinya sampah tersebut tidak hilang melainkan hanya berpindah tempat atau berubah bentuk. Seperti yang kami lihat, bukti jika sampah yang ada di air yang wujudnya masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Bagaimana dengan sampah-sampah yang sudah mengalami degradasi menjadi ukuran yang lebih kecil atau sudah menjadi bentuk lain?
Pada peringatan Hari Laut Dunia kali ini, kami akan fokus membahas tentang kontaminan mikroplastik di lautan dunia. Mikroplastik pada dasarnya bentuk lain dari sampah plastik yang telah mengalami degradasi ukuran, yaitu menjadi partikel yang lebih kecil dari bentuk awalnya. Menurut Thompson dkk (2004), mikroplastik merupakan partikel plastik yang memiliki ukuran diameter kurang dari 5 mm. Mikroplastik dapat berbentuk serat (fiber), lapisan tipis, fragmen atau granula. Mikroplastik juga terdapat dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan mikroplastik yang diperoleh dari kosmetik dan produk kesehatan yang mengandung microbead atau microexfoliate seperti polietilen (PE), polipropilen (PP) dan polistiren (PS). Mikroplastik sekunder diperoleh dari degradasi plastik melalui proses fisik, kimia dan biologi, misalnya plastik yang terkena radiasi sinar UV atau arus air yang deras yang menyebabkan plastik terdegradasi menjadi mikroplastik [1].
Penelitian tentang mikroplastik telah banyak dilakukan di dunia, baik dari Eropa, China hingga Antartika. Penelitian tersebut dilakukan didasarkan pada potensi paparan mikroplastik pada makhluk hidup hingga persebaran mikroplastik di perairan. Potensi adanya paparan mikroplastik pada makhluk hidup melalui proses biomagnifikasi yang terjadi pada rantai makanan, tertelannya mikroplastik oleh berbagai organisme laut atau perairan hingga potensi mikroplastik yang berukuran makin kecil dapat masuk ke dalam mikroorganisme seperti zooplankton. Adapun penelitian berkaitan dengan persebaran mikroplastik, mulai dari mikroplastik di air laut, seidmen, air sungai, udara hingga di organisme. Di Indonesia sendiri, perkembangan penelitian terkait mikroplastik telah dimuali dari sejak tahun 2015, yaitu penelitian distribusi mikroplastik di beberapa perairan Indonesia seperti di Muara Badak, di Teluk Jakarta, Surabaya, Teluk Benoa Bali hingga di Sungai Citarum[1].
Sebuah tim ahli kelautan global yang dipimpin oleh peneliti Kyushu University telah mengembangkan kumpulan data yang tersedia untuk umum untuk menilai kelimpahan mikroplastik dan tren jangka panjangnya di permukaan lautan dunia. Tim menemukan 24,4 triliun keping atau sekitar 82.000-578.000 ton mikroplastik atau setara dengan sekitar 30 miliar botol air plastik 500 ml di lautan dunia, tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih besar. Dalam Jurnal Microplastics and Nanoplastics dengan Judul “A Multilevel Dataset Of Microplastic Abudance In The World’s Upper Ocean And The Laurentian Great Lakes”, dijelaskan bahwa mikroplastik dikategorikan sebagai potongan-potongan kecil plastik terdegradasi berukuran kurang dari 5 mm. Mikroplastik dapat melakukan perjalanan ribuan mil dilaut lepas dan tergantung pada kemampuan degradasinya dan tetap berada diberbagai kedalaman permukaan laut [2].
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Microplastic Pollution in Deep-Sea Sediments From the Great Australian Bright”, menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan di wilayah terpencil yang jauh dari pusat populasi urban, menunjukkan muatan mikroplastik yang besar disana. Belum banyak studi yang menjelaskan bagaimana mikroplastik bisa berada di suatu wilayah. Pecahan plastik yang lebih kecil bisa tenggelam ke dasar laut. Arus laut dan pergerakan alami sedimen di sepanjang landas kontinen juga bisa menggerakan mikroplastik dalam jumlah besar.
Ilmuwan di Amerika Serikat telah menemukan bahwa komunitas mikroba seperti bakteri, bisa menghuni “plastisphere” laut (sebutan untuk ekosistem yang berada di lingkungan plastik). Mikroba-mikroba ini membuat plastik menjadi berat sehingga plastik tidak lagi mengapung. Kerang dan invertebrata lainnya mungkin tinggal di plastik yang mengapung, sehingga mikroplastik menjadi berat dan kemudian tenggelam. Selain itu, jenis sampah juga akan menentukan apakah sampah tersebut akan hanyut ke pantai atau tenggelam ke dasar laut. Sebagai contoh, pada studi sebelumnya, kami menemukan puntung rokok, pecahan plastik, tutup botol, dan bungkus makanan yang sering ditemukan di daratan, tapi jarang di dasar laut. Sementara itu, alat penjerat seperti tali kail, tali, dan bungkus plastik lebih sering ditemukan di dasar laut.
Dwi Amanda Utami, Peneliti dari Pusat Riset Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, dalam kuliah tamunya di ITB menyebutkan “Rasio jumlah plastik terhadap ikan di laut pada 2025 adalah 1:3. Akan tetapi, pada 2050 diperkirakan jumlah sampah akan lebih banyak dibandingkan jumlah ikan di laut. Hal ini dapat diperparah dengan tindakan overfishing,” Jumlah sampel ikan di Indonesia yang mengandung mikroplastik 5x lebih banyak dibandingkan sampel ikan di Amerika. Adapun jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber dan fragmen. Mikroplastik jenis ini berasal dari pakaian dengan serat sintetis, alat pancing, dan jaring ikan[3].
Keberadaan mikroplastik dalam perut ikan dan sumber air tawar dapat menjadi jalan masuk ke tubuh manusia. Mikroplastik mengandung berbagai zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan. Plastik juga dapat menyerap bahan kimia berbahaya yang terlarut dalam air. Semakin kecil ukuran partikel plastik, maka semakin efisien dalam mengakumulasi toksin. Potensi bahaya mikroplastik lainnya pada kesehatan manusia adalah memicu pertumbuhan tumor, penghambat sistem imun, dan mengganggu sistem reproduksi. Saat ini, keberadaan mikroplastik belum berada di tingkat yang mengancam. Namun, seiring berjalannya waktu jumlahnya akan meningkat dan bahanya akan semakin nyata. Jika tertelan oleh mamalia laut karena menyerupai mangsa alaminya, mikroplastik dapat mengakibatkan rusaknya organ pencernaan karena sulit atau tidak bisa dicerna, mengurangi cadangan energi pada tubuh, dapat mengganggu sistem reproduksi, dan yang paling fatal dapat menyebabkan kematian[3]. Sampah plastik tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga memengaruhi perubahan iklim dunia.
United Nations kini menyatakan deklarasi perang terhadap sampah plastik. Berbagai negara, termasuk Indonesia juga mulai melakukan komitmen yang sama. “Langkah sederhana yang dapat kita lakukan adalah mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dan melakukan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)[3]. Banyak pusat perbelanjaan atau minimarket yang sudah tidak menggunakan kantong plastik, mereka menyediakan tas kain bagi pelanggannya yang lupa membawa atau belum memiliki kantong belanjaan. Kantong-kantong ini didesain untuk memperpanjang massa penggunaannya. Selain itu, coffee shop, restoran atau tempat jual beli minuman sebagian dari mereka sudah menerapkan minim penggunaan plastik dengan tidak menyediakan sedotan atau menggunakan kantong makanan dari bahan yang dapat di recycle. Meski penggunaan plastik dalam kehidupan tidak hanya sebatas kantong plastik dan sedotan yang sering dibicarakan, harapan kedepannya secara holistik bahan kemasan yang digunakan untuk pengemasan atau pewadahan produk lebih ramah lingkungan dan sustainability.
Refrensi:
Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya