

Indonesia terdiri dari lebih dari 1.000 pulau yang dihuni oleh bermacam kelompok etnis dengan berbagai budaya. Semboyan nasional Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu kesatuan’, sangat menggambarkan Indonesia sebagai negara kepulauan. Ketika masyarakat hidup dengan bahasa, makanan, budaya, gaya hidup, dan kepercayaan yang berbeda, permainan tampaknya menjadi suatu hal yang umum di seluruh Indonesia. Perdagangan internasional yang berjalan selama ribuan tahun dari pulau ke pulau ikut menyebarkan permainan beserta alat permainannya dari satu pulau ke pulau lainnya.
Permainan tradisional dengan segala keunikannya, memiliki kelebihan dibandingkan dengan permainan modern karena permainan tradisional harus dimainkan secara langsung, sehingga tidak hanya keseruan dari masing-masing permainan yang dirasakan tetapi juga kebersamaan dan kekeluargaan yang didapatkan. Banyak di antara permainan tradisional Indonesia yang tergolong ramah lingkungan dengan pemanfaatan barang bekas (reuse), dan tentunya tidak menghasilkan polusi apapun. Dilansir dari greeners.co, Zaini Alif, yang dijuluki sebagai sang ‘Doktor Permainan’, berpendapat bahwa permainan tradisional juga mengenalkan anak pada alam. Anak-anak mulai mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya lewat bermain. Misalnya dengan kolecer, anak bisa mengenal angin. Dengan icikibung anak bisa mengenal air, dengan leuleutakan anak bisa mengenal tanah, dan dengan sondah madah anak bisa mengenal batu.
Zaini menekankan dengan berinteraksi langsung dengan alam akan tumbuh rasa sayang dan memiliki kepada alam tempatnya bermain sehingga ketika tumbuh besar anak-anak tidak akan semena-mena pada alam. Anak-anak akan merasa perlu dan kemudian menjaga lingkungannya, hal ini akan dibawa sampai dewasa. Pencemaran lingkungan yang kian marak dan perilaku yang tidak bersahabat dengan alam merupakan salah satu indikasi bahwa manusia tidak lagi dekat dengan alam dan menganggap alam hanya sebagai pemenuh kebutuhan semata. Hal ini bisa jadi merupakan indikasi bahwa generasi sekarang adalah generasi yang kurang ‘bermain’. Ketiadaan akses permainan tradisional kepada anak-anak terutama yang tinggal di perkotaan. Menurut Zaini, adalah salah satu alasan kurang populernya permainan tradisional dibandingkan dengan permainan modern. Kedekatan gaya hidup dengan teknologi, seperti gadget, handphone, komputer membuat pilihan bermain anak semakin sempit. Di samping itu, kekhawatiran orang tua bila anak dapat terkena penyakit dari berkotor-kotoran dan bermain keluar juga menjadi alasan yang dominan.
Kali ini mari kita bernostalgia dengan mengulas beberapa permainan tradisional di Indonesia yang tidak hanya mendekatkan kita dengan alam tetapi juga eco-friendly.
1. Mobil-mobilan Kulit Jeruk
Meski anak-anak zaman sekarang mungkin menganggap mobil berbahan kulit Jeruk Bali sudah tidak cocok dengan perkembangan zaman saat ini, masih banyak dari kita yang memiliki kenangan manis dengan mobil buatan sendiri (home-made) ini. Jeruk Bali adalah buah pomelo besar (seperti jeruk bali) yang memiliki kulit sangat tebal. Setelah buahnya dibuang, kulitnya kemudian bisa dipotong-potong yang akan membentuk bagian-bagian mobil. Iga pelepah kelapa yang kaku digunakan untuk menyatukan potongan-potongan itu. Tongkat panjang dipasang di bagian belakang mobil dan dapat digunakan untuk mendorong mobil. Terkadang seutas tali diikatkan ke bagian depan mobil sehingga dapat ditarik ke belakang pemiliknya juga. Mainan yang sangat sederhana ini membawa kebahagiaan tersendiri ke banyak anak Indonesia.
2. Layang-layang
Setiap daerah memiliki keunikan atau ciri khas tentang layang-layang. Pada umumnya layang-layang terbuat dari kertas atau kain parasut yang diberi kerangka dan dapat diterbangkan ke angkasa dengan bantuan angin setelah diikatkan pada seutas tali atau benang. Selain menyenangkan, permainan tradisional ini banyak dimainkan oleh kalangan anak-anak, remaja hingga dewasa karena ramah lingkungan, berkearifan lokal dan murah. Di berbagai daerah jenis permainan tradisional ini sudah menjadi satu bagian dengan tradisi kearifan lokal. Udara sejuk dan gumpalan awan di sore hari menjadi sebuah pemandangan yang apik untuk bermain layang-layang, sambil sesekali bersiul. Menurut tradisi, siulan saat bermain layang-layang dapat memanggil angin agar bertiup kencang. Saat angin mulai berhembus maka layang-layang bisa segera lepas landas.
3. Gangsing
Meski anak-anak zaman sekarang mungkin menganggap mobil berbahan kulit Jeruk Bali sudah tidak cocok dengan perkembangan zaman saat ini, masih banyak dari kita yang memiliki kenangan manis dengan mobil buatan sendiri (home-made) ini. Jeruk Bali adalah buah pomelo besar (seperti jeruk bali) yang memiliki kulit sangat tebal. Setelah buahnya dibuang, kulitnya kemudian bisa dipotong-potong yang akan membentuk bagian-bagian mobil. Iga pelepah kelapa yang kaku digunakan untuk menyatukan potongan-potongan itu. Tongkat panjang dipasang di bagian belakang mobil dan dapat digunakan untuk mendorong mobil. Terkadang seutas tali diikatkan ke bagian depan mobil sehingga dapat ditarik ke belakang pemiliknya juga. Mainan yang sangat sederhana ini membawa kebahagiaan tersendiri ke banyak anak Indonesia.
Masih tentang keragaman di Indonesia, yang tidak kalah populer dari permainan tradisional adalah masakan Indonesia dengan beragam menu, rasa, dan tradisi. Hal ini tidak hanya karena Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga karena pengaruhnya penduduk asing yang datang dan menetap. Dari kacamata sejarah, Indonesia adalah pusat perdagangan karena lokasi dan sumber daya alamnya. Fakta bahwa pulau-pulau di Indonesia tersebar dan dikunjungi oleh bangsa pendatang yang berbeda menjadikan tidak hanya ada satu masakan Indonesia, tetapi beragam masakan daerah. Teknik memasak dan bahan-bahan alami masakan Indonesia kini terus berkembang, yang mulanya dipengaruhi oleh seni kuliner India, Timur Tengah, Cina, dan kemudian oleh Eropa.
Menelusuri kuliner Indonesia dari utara ke tenggara, masakan pulau Sumatera sebagian besar merupakan perpaduan masakan asal India dan Timur Tengah, dengan daging dan sayuran seperti gulai dan kari. Sedangkan ke arah selatan, di Pulau Jawa, masakan daerah memiliki citra rasa yang lebih kuat dan khas. Sebaliknya, menuju ke timur, kita dapat temui masakan lokal yang merupakan perpaduan seni kuliner dari Melanesia dan Polinesia.
Meskipun memiliki banyak variasi, masakan Indonesia masih mempertahankan ciri khasnya sendiri yang umum di seluruh nusantara. Tradisi ini dapat mudah dikenali di beberapa masakan Indonesia yang populer seperti nasi goreng, gado-gado, sate dan soto, yang saat ini terkenal di seluruh dunia dan dianggap sebagai masakan nasional Indonesia. Bangsa pendatang di Indonesia juga kemudian ikut terpengaruh dengan tradisi kuliner Indonesia. Faktanya, beberapa hidangan Indonesia yang populer mampu dikenal hingga keluar perbatasan Indonesia dan dapat mudah ditemukan di sebagian besar Asia Tenggara. Sebut saja sate atau rendang, dua hidangan yang kini menjadi favorit di Malaysia dan Singapura. Belum lagi sambal, yang terkenal pedas dan disajikan dalam berbagai bentuuk, kerap disajikan bersama masakan khas masakan Indonesia. Atau variasi penggunaan kedelai yang berasal dari Indonesia dan menjadi populer di seluruh Asia, kini menyebar ke seluruh dunia. Berkat Indonesia, para vegetarian di seluruh dunia mengenal tidak hanya pada pengganti daging yang sangat baik secara kandungan gizi yaitu tahu, tetapi juga pada tempe asli, yang dibuat dengan fermentasi kedelai kuning, makanan yang kaya akan protein, serat, dan vitamin yang tentunya menggugah selera siapapun.
Refrensi:
Mitra Hijau Indonesia – Konsultan Lingkungan Hidup Surabaya