5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Menjaga Bumi

thumbnail
bumi

(Source: kompas.com)

Bumi Butuh Kita: Cara Sederhana untuk Membuat Perubahan

Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan menipisnya sumber daya alam bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Salah satu indikator nyata perubahan iklim yaitu adanya perubahan  temperatur  global ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.7℃ antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8 – 4.0℃  di  abad  sekarang ini, dan  bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1 – 6.4℃ (Leontinus, 2022).

Aktivitas sederhana seperti cara berbelanja, menggunakan energi, hingga membuang sampah, tanpa disadari memiliki dampak besar terhadap kondisi bumi. Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar atau kebijakan berskala nasional, tetapi justru dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu. Dengan memahami peran kita sebagai individu, setiap pilihan yang diambil dapat menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan lingkungan yang ada.

Ada berbagai langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk ikut menjaga bumi. Lima hal berikut merupakan lima contoh tindakan praktis yang mudah dilakukan, namun memiliki dampak positif yang signifikan apabila diterapkan secara berkelanjutan dan konsisten. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjadi awal bagi perubahan gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan dan keberlanjutan bumi.

1. Menggunakan Produk Berkelanjutan

Memilih menggunakan produk berkelanjutan adalah salah satu dari lima langkah sederhana namun berdampak besar untuk membantu menjaga bumi. Produk berkelanjutan sendiri merupakan barang yang diproduksi, digunakan, dan dibuang dengan cara yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, baik dari segi bahan baku, proses produksi, hingga pada akhir siklusnya. Produk ini seringkali terbuat dari bahan yang dapat diperbarui, mudah didaur ulang, atau memiliki proses produksi yang lebih hemat energi dan minim limbah, sehingga mengurangi konsumsi sumber daya alam yang terbatas dan emisi gas rumah kaca akibat produksi massal produk konvensional (Ernawan, 2017). 

Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, semakin banyak konsumen yang memilih produk berkelanjutan dapat mendorong perubahan di tingkat industri. Permintaan pasar yang meningkat terhadap barang dengan label eco-friendly atau sustainability memberi sinyal kepada perusahaan untuk memperbaiki proses produksi mereka, mengadopsi teknologi bersih, dan mengurangi penggunaan bahan yang merusak lingkungan. Misalnya, banyak produk berkelanjutan kini dibuat dari sumber terbarukan, bahan daur ulang, atau diproduksi dengan efisiensi energi yang tinggi. Hal tersebut mampu mengurangi jejak ekologis produk secara keseluruhan (Ecocertify, 2023). 

Penggunaan produk berkelanjutan memberikan dampak positif secara langsung dalam kehidupan sehari-hari di tingkat individu. Produk yang dirancang lebih tahan lama dan dapat digunakan berulang kali membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan berkurangnya kebutuhan membeli produk sekali pakai, konsumsi sumber daya dapat ditekan dan biaya pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang pun menjadi lebih efisien. Selain itu, berkurangnya timbulan sampah juga berkontribusi pada penurunan pencemaran tanah dan air akibat pengelolaan limbah yang tidak optimal.

Lebih jauh, penerapan produk berkelanjutan mencerminkan gaya hidup yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Pilihan sederhana seperti menggunakan tas belanja kain, botol minum isi ulang, atau produk dengan eco-label menjadi bagian dari perubahan perilaku yang berdampak kumulatif jika dilakukan secara luas. Ketika praktik ini diterapkan secara konsisten oleh masyarakat, penggunaan produk berkelanjutan tidak hanya membantu menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga membangun budaya konsumsi yang lebih bijak, berkelanjutan, dan selaras dengan prinsip perlindungan bumi untuk masa depan. Klik disini untuk berkonsultasi terkait strategi keberlanjutan bisnis secara holistik.

2. Hemat Energi dan Listrik

Menghemat energi listrik bukan hanya soal mengurangi penggunaan alat elektronik, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap konsumsi energi di skala yang lebih luas. Konsumsi listrik di Indonesia mengalami peningkatan dari 0,84 MWh pada 2013 menjadi 1,20 MWh pada 2023 seiring pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan modern. Namun, peningkatan ini belum diikuti dengan praktik efisiensi yang optimal, sehingga masih banyak potensi hemat energi yang bisa diwujudkan melalui perubahan perilaku dan teknologi efisien di rumah tangga (Peran Manajemen Energi, 2024). Hemat energi listrik di rumah tangga dapat menjadi langkah awal untuk menekan pasokan energi nasional serta mengurangi jejak karbon dari pembangkitan listrik.

Penghematan listrik tingkat rumah tangga berpotensi menjadi strategi yang sangat signifikan apabila dilakukan secara konsisten. Sebuah studi tahun 2025 menunjukkan bahwa dengan hanya mengurangi konsumsi energi listrik sebesar 10% saja, satu rumah tangga dapat menghemat sekitar 331.864 watt/tahun dari total konsumsi listrik mingguan setiap rumah tangga (Analisis Penghematan Daya Listrik, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa jika setiap rumah tangga di Indonesia menerapkan penghematan energi yang sama, jumlah listrik yang berhasil diselamatkan akan sangat besar juga dapat membantu mengurangi kebutuhan pasokan baru dan menekan penggunaan bahan bakar fosil dalam pembangkit listrik. Langkah-langkah kecil seperti mematikan perangkat yang tidak digunakan, mengganti lampu biasa dengan lampu hemat energi, serta mengatur penggunaan alat berat pada jam yang efisien bisa memberikan kontribusi nyata terhadap angka penghematan tersebut.

Pengelolaan konsumsi listrik yang lebih efisien tidak hanya berdampak pada skala rumah tangga, tetapi juga dapat menciptakan budaya hemat energi yang lebih luas di masyarakat. Data kegiatan pengelolaan energi di lingkungan kampus seperti Universitas Negeri Semarang (UNNES) menunjukkan bahwa melalui program efisiensi dan pengawasan penggunaan listrik, total penggunaan energi bisa ditekan sedikit meskipun tetap mendukung operasi kampus sehari-hari — misalnya berkurangnya konsumsi tahunan dari 7.013.408 kWh menjadi 7.007.130 kWh berkat strategi hemat energi (UNNES Records, 2025).Dengan demikian, penghematan energi listrik tidak hanya membantu menurunkan tagihan listrik pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap sustainability dan ketahanan energi secara kolektif.

Selain dampak langsung terhadap konsumsi energi, upaya penghematan listrik juga berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor ketenagalistrikan. Di Indonesia, sebagian besar pembangkit listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil, khususnya batu bara, yang menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar. Setiap penurunan permintaan listrik, meskipun terlihat kecil di tingkat individu, akan berdampak kumulatif terhadap berkurangnya beban pembangkitan dan emisi yang dihasilkan. International Energy Agency mencatat bahwa peningkatan efisiensi energi dapat menyumbang hingga 40% dari target penurunan emisi global yang dibutuhkan untuk mencapai transisi energi berkelanjutan (IEA, 2023). Oleh karena itu, kebiasaan hemat energi listrik bukan hanya bentuk penghematan ekonomi, tetapi juga bagian penting dari strategi mitigasi perubahan iklim dan upaya menjaga ketahanan energi nasional secara jangka panjang.

3. Transportasi Ramah Lingkungan

Mengadopsi transportasi ramah lingkungan adalah salah satu langkah yang dapat secara signifikan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh sektor transportasi yang juga selama ini menjadi salah satu sumber terbesar polusi udara di perkotaan. Di Indonesia transportasi berbahan bakar fosil menyumbang sekitar 60–70% dari total emisi karbon di perkotaan, sehingga beralih ke moda transportasi yang lebih bersih sangat penting untuk memperbaiki kualitas udara dan kesehatan masyarakat (Gunawan et al,, 2020). Penurunan polisi terutama di kota besar semakin nyata memberikan dampak positif bagi lingkungan dengan semakin banyaknya kendaraan ramah lingkungan seperti kendaraan listrik yang tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung.

Selain kendaraan listrik, penggunaan transportasi umum dan moda non-motorized juga menunjukkan dampak kuat terhadap pengurangan konsumsi energi dan emisi. Misalnya, studi perbandingan menunjukkan bahwa beralih dari mobil pribadi ke transportasi publik dapat mengurangi konsumsi energi per perjalanan hingga sekitar 70%, suatu angka yang mencerminkan efisiensi energi jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan mobil pribadi. Transportasi umum seperti Bus Rapid Transit (BRT), MRT, dan LRT tidak hanya mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan tetapi juga menekan total bahan bakar fosil yang digunakan untuk perjalanan orang per orang, sehingga mendukung target pengurangan emisi nasional dan peningkatan kualitas udara.

Transportasi ramah lingkungan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal perilaku dan kebijakan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan mendorong masyarakat untuk meningkatkan penggunaan transportasi ramah lingkungan melalui pembangunan infrastruktur transportasi massal dan fasilitas untuk pejalan kaki serta pesepeda. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi yang kurang efisien secara energi. Dukungan kebijakan semacam ini penting karena pengembangan sistem transportasi ramah lingkungan juga menciptakan ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan dapat menurunkan beban konsumsi energi nasional di masa depan.

Mewujudkan transportasi ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan, melainkan juga pada perencanaan dan pengelolaan lalu lintas yang baik, khususnya pada kegiatan pembangunan dan pengembangan kawasan. Setiap pembangunan pusat kegiatan baru berpotensi menimbulkan bangkitan dan tarikan lalu lintas yang signifikan, yang jika tidak dikelola dengan tepat dapat meningkatkan kemacetan dan emisi kendaraan. Di sinilah Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) berperan penting sebagai instrumen untuk menilai dampak transportasi suatu kegiatan terhadap jaringan jalan di sekitarnya. Andalalin memastikan bahwa rencana pembangunan telah mempertimbangkan kapasitas jalan, pola pergerakan kendaraan, serta kebutuhan akses transportasi yang efisien dan berkelanjutan (Kementerian Perhubungan RI, 2023).

Melalui penerbitan Persetujuan Teknis (Pertek) Andalalin, pemerintah memastikan bahwa rekomendasi pengelolaan lalu lintas yang dihasilkan dari dokumen Andalalin benar-benar diterapkan oleh pelaku usaha. Rekomendasi tersebut dapat berupa penyediaan akses masuk-keluar yang aman, pengaturan sirkulasi kendaraan, penyediaan fasilitas pejalan kaki, hingga integrasi dengan transportasi umum. Implementasi Pertek Andalalin ini secara langsung mendukung prinsip transportasi ramah lingkungan karena bertujuan mengurangi kemacetan, menekan emisi kendaraan, dan meningkatkan efisiensi pergerakan lalu lintas di kawasan tersebut. Dengan demikian, Andalalin dan Pertek Andalalin bukan hanya persyaratan administratif, tetapi juga bagian dari upaya strategis dalam mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Klik disini untuk mengetahui pertek andalalin lebih lanjut.

4. Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan lingkungan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurut data terbaru dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai sekitar 35,76 juta ton per tahun pada 2024 di 333 kabupaten/kota yang melaporkan datanya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 32,83% atau sekitar 11,74 juta ton per tahun yang berhasil terkelola dengan baik, sementara 67,17% sisanya atau sekitar 24,02 juta ton masih belum terkelola secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan sampah bukan sekadar jumlah yang dihasilkan, melainkan juga efektivitas sistem pengelolaannya.

tempat sampah

(Source: rinso.com)

Masalah ini semakin kompleks bila dilihat dari komposisi dan sumber sampah. Data menunjukkan bahwa sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga, dengan sampah organik dan plastik menjadi dua fraksi terbesar yang dihasilkan masyarakat. Sebagai contoh, pada tahun 2022, komposisi sampah nasional menunjukkan bahwa sekitar 57% merupakan sampah organik, sementara sekitar 16% adalah sampah plastik, menjadikannya bagian signifikan dari tantangan daur ulang dan penanganan di tempat pembuangan akhir. Plastik khususnya, bukan hanya sulit terurai tetapi juga memiliki kecenderungan mencemari sungai dan laut, serta berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan baik.

Perlu dicatat bahwa masalah pengelolaan sampah juga memiliki dampak ekonomi yang besar, baik dalam biaya operasional maupun kerugian akibat polusi dan degradasi lingkungan. Menurut perkiraan United Nations Environment Programme (UNEP), produksi sampah rumah tangga dan sejenisnya di dunia mencapai sekitar 2,1 miliar ton per tahun, dengan potensi kerugian ekonomi mencapai lebih dari US$640 miliar pada 2050 jika tidak ada perbaikan sistem pengelolaan (Petriella, 2025). Di Indonesia sendiri, data dari tahun 2023 memperlihatkan bahwa timbulan sampah nasional bisa mencapai 56,6 juta ton, namun hanya sekitar 39,01% yang berhasil dikelola sementara hampir 61% belum tertangani secara memadai.

Strategi pengelolaan sampah yang efektif melibatkan pendekatan terpadu, tidak hanya pada sisi pembuangan tetapi juga pada pengurangan sampah di sumber, pemilahan, daur ulang (recycle), pemanfaatan kembali (reuse), dan pengomposan. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) telah menjadi prinsip dasar dalam sistem pengelolaan sampah modern, di mana sampah dipilah sejak di rumah tangga untuk memudahkan pengolahan lanjutan. Bank sampah, fasilitas komposting, serta teknologi pengolahan menjadi sumber energi merupakan bagian dari solusi yang kini diterapkan di berbagai daerah sebagai upaya memperluas kapasitas pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah juga penting. Kesadaran untuk meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, membuang sampah pada tempatnya, dan aktif di program daur ulang lokal dapat meringankan beban fasilitas umum, sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah secara keseluruhan. Program seperti World Cleanup Day bahkan melibatkan lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia, untuk membersihkan lingkungan dari sampah dan mendorong kerja sama lintas sektor dalam upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor privat, sistem pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menjadi respons terhadap masalah saat ini tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan untuk masa depan. Klik disini untuk mengetahui pengelolaan sampah 3R lebih lanjut.

5. Pemanfaatan Ruang Hijau

Ruang hijau merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan hidup. Keberadaan vegetasi, baik dalam bentuk taman, pepohonan, kebun, maupun tanaman hias, berperan dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, serta menjaga kestabilan suhu dan kelembaban udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ketersediaan ruang hijau minimal 9 m² per kapita untuk mendukung kesehatan manusia dan lingkungan, dengan angka ideal mencapai 30–50 m² per kapita. Ketersediaan ruang hijau yang memadai terbukti berkontribusi terhadap kualitas udara yang lebih baik dan lingkungan yang lebih sehat (WHO, 2016).

Selain fungsi ekologis, ruang hijau juga berperan penting dalam mitigasi dampak perubahan iklim. Vegetasi mampu menurunkan suhu lingkungan melalui proses evapotranspirasi serta mengurangi paparan panas berlebih di area terbuka. Penelitian menunjukkan bahwa kawasan dengan tutupan vegetasi yang baik dapat mengalami penurunan suhu permukaan hingga 2–4°C dibandingkan area tanpa vegetasi. Hal ini menjadikan ruang hijau sebagai solusi alami yang efektif dalam menghadapi peningkatan suhu akibat perubahan iklim global (IPCC, 2022; EPA, 2021).

Dalam kondisi keterbatasan lahan, pemanfaatan ruang secara vertikal melalui vertical garden atau taman vertikal menjadi alternatif yang semakin banyak diterapkan. Konsep ini memungkinkan tanaman tumbuh pada bidang vertikal seperti dinding atau struktur bangunan, sehingga tetap memberikan manfaat ekologis tanpa memerlukan lahan luas. Studi menunjukkan bahwa penerapan vertical garden mampu menurunkan suhu permukaan bangunan hingga 5–7°C serta berpotensi mengurangi kebutuhan energi pendinginan ruangan hingga 20–30% (Perini & Rosasco, 2013).

Ruang hijau juga berkontribusi dalam peningkatan kualitas udara dengan menyerap polutan dan partikel berbahaya. Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat bahwa satu pohon dewasa dapat menyerap sekitar 22 kg CO₂ per tahun, sehingga keberadaan vegetasi dalam jumlah yang memadai memiliki peran signifikan dalam menekan konsentrasi gas rumah kaca. Selain itu, ruang hijau juga terbukti berdampak positif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan manusia, termasuk menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kenyamanan lingkungan (FAO, 2018; WHO, 2021).

Pada akhirnya upaya penyediaan dan pengelolaan ruang hijau dapat dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, melalui langkah-langkah sederhana seperti penanaman pohon, pengembangan taman, atap hijau, maupun vertical garden. Jika direncanakan dan dikelola secara berkelanjutan, ruang hijau tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga menjadi bagian penting dari strategi perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan jangka panjang (UN-Habitat, 2020).

Daftar Pustaka

Leontinus, G. (2022). Program dalam pelaksanaan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGS) dalam hal masalah perubahan iklim di Indonesia. Jurnal Samudra Geografi, 5(1), 43-52.

Randi Ernawan. (2017). Mewujudkan sustainable consumption and production melalui produk ramah lingkungan. Pusfaster BSILHK. 

Ecocertify. (2023). Bahan dan produk berkelanjutan.

Peran Manajemen Energi terhadap Efisiensi Konsumsi Listrik Rumah Tangga di Indonesia. (2024). Semnastek Proceedings.

Analisis Penghematan Daya Listrik dan Pengaruhnya Terhadap Pemakaian Beban Rumah Tangga. (2025). Journal of Telecommunication and Electrical Scientific.

Universitas Negeri Semarang. (2025). UNNES Records a Slight Decrease in Annual Electricity Usage, Reinforcing Energy Efficiency Commitment – Sustainable Development Goals.

Petriella, Y. (2025). Upaya dunia dan Indonesia atasi masalah pengolahan sampah.

FAO. (2018). Urban forests: A key to sustainable cities. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

IPCC. (2022). Climate change 2022: Impacts, adaptation and vulnerability. Intergovernmental Panel on Climate Change.

Perini, K., & Rosasco, P. (2013). Cost–benefit analysis for green façades and living wall systems. Building and Environment, 70, 110–121.

UN-Habitat. (2020). Enhancing resilience through green infrastructure. United Nations Human Settlements Programme.

U.S. Environmental Protection Agency. (2021). Using green infrastructure to reduce heat impacts.

World Health Organization. (2016). Urban green spaces and health.

World Health Organization. (2021). Green spaces and mental health.

vector

PT MITRA HIJAU INDONESIA

CONNECT

admin@mitrahijauindonesia.com
marketing@mitrahijauindonesia.com

+62​81359795565
szutestmarkalar lekesiz 26
szutestbrands darkbg iso14001
szutestbrands darkbg iso9001

© all rights reserved – simetrie

EnglishIndonesian